Kematian yang Indah— Aulia Pergi dengan Senyum Manis
Namanya Aulia Imaniar Putrianti.
Putri terkasih Bapak Tedjo Bakti dan Ibu Maya Hariyanti ini lahir pada 1 Desember 1996. Keluarga mereka tinggal di Perum Alam Sari Blok K/5 Denpasar, Bali. Aulia menderita penyakit anemia aplastik (semoga istilah ini tidak keliru), yaitu penyakit yang terjadi karena dapur darah tidak bisa berproduksi. Akibat penyakitnya, perutnya selalu mengalami rasa sakit karena limpanya membesar, livernya terganggu, HB-nya turun sampai angka 3, antibodinya tidak ada, harus ditransfusi darah setiap hari. Dia pernah di opname di rumah sakit sebanyak 2 kali (setiap kali opname memakan waktu 1 minggu). Upaya yang lain pun sudah dilakukan tetapi tidak ada yang berhasil.
Pada suatu hari, tantenya datang menjenguk dan memberi buku Mahkota Dewa Obat Puska Para Dewa. Karena belum bisa membaca dengan lancar, Aulia meminta agar buku itu dibacakan sampai habis, Setelah seluruh isi buku dibaca, pada tengah malamnya, Aulia berdoa agar dia tidak usah diopname di rumah sakit lagi, tetapi cukup berobat menggunakan jamu dari saya.
Kepada keluarganya,dia minta dicarikan obatnya. Obat itu bisa didapatkan di Mitra Usaha Mahkota Dewa di Denpasar, yakni Bapak Oka Made Ratawan. Karena Aulia masih kecil, dia hanya diberi mahkota dewa murni (dalam bentuk instant). Setelah beberapa hari, tampak kemajuan yang nyata. Limpanya yang bengkak langsung kempes, lalu sakit perutnya mulai berkurang.
Waktu ada pameran di Nusa Dua dan kebetulan saya mengikutinya, saya bertemu dengan mamanya. Sambil berurai air mata, mamanya ,menanyakan kelanjutan pengobatannya. Saya menganjurkan agar Aulia diberi tambahan kapsul umbi daun dewa, temu putih dan temu lawak instant agar nafsu makannya bertambah.
Setelah diberi ramuan itu, kondisinya makin membaik. Dia sudah bisa tidur dengan enak dan nafsu makannya juga sudah timbul. Selain menggunakan ramuan mahkota dewa, Aulia juga dibantu pengobatannya oleh ahli totok darah, Ni Luh Gde Sukarsi. Keadaanya pun makin baik. Terbukti, HB-nya naik dari 3 ke 11, nafsu makannya makin bagus, dan tampak sekali perubahannya.
Akan tetapi, rupanya Tuhan berkehendak lain.Tiba-tiba pada 8 September 2002 Aulia merasa sakit perut. Dia bilang kepada orangtuanya bahwa dia akan meninggal. Mamanya terkejut dengan ucapan Aulia.
“ Aulia jangan bilang begitu ah, Aulia kan sudah mulai sehat.”
“Tapi Tuhan sudah akan memanggil. Cepat Mama, waktunya tinggal sedikit. Mama cepat panggilkan Papa dan teman-teman pengajiannya,” kata Aulia sambil menahan sakit.
Dalam keadaan setengah percaya, mamanya menuruti keinginan Aulia sambil menuntunnya ke tempat tidur.
“ Ya Allah ya Rabbi, apa yang akan terjadi ? Jangan panggil anakku, ya Allah”. Mamanya beruarai air mata. Lalu menelpon suaminya.
“ Mama jangan menagis. Aulia tidak apa-apa. Allah itu baik sekali, Mama. Kalau Aulia meninggal, tidak ada yang boleh menangis. Mama, Papa, kakak, serta semua keluarga nggak boleh nangis.” Kata Aulia dengan penuh ketenangan dan ketabahan sambil sesekali tampak menahan sakit.
“ Aulia jangan ngomong seperti itu, Aulia pasti sembuh”.
Sungguh seperti kejadian dalam sebuah film drama keluarga yang sangat mengharukan. Betapa tidak, seorang anak kecil menasehati keluarganya agar tidak menagis jika dia pergi menghadap Tuhan. Bagi Aulia, kematian itu bukan sesuatu yang menakutkan. Bukan hal yanh luar biasa. Justru sebaliknya, kematian itu seperti sesuatu yang indah.
Ketika Papa dan teman-teman pengajiannya sudah berkumpul, semuanya terheran-heran dan terpana menghadapi peristiwa menakjubkan. Belum pernah terjadi seumur hidup mereka ada permintaan seseorang, bahkan anak kecil yang akan meninggal agar didoakan bersama. Ketika mereka belum juga memulai doanya, Aulia terus mendesak agar cepat dimulai.
“Ayo cepat Papa, tolong usir setan-setan itu. Cepat dimulai pengajiannya,” kata Aulia dengan penuh permohonan.
Akhirnya, dengan penuh kesugguhan hati pada dan teman pengajiannya mendoakan Aulia sambil melingkari tempat tidurnya.
Setelah didoakan dalam pengajian, Aulia mengucapkan terima kasih.
“ Terima kasih, Pap. Terima kasih Mama. Aulia mau pergi”.
“Aulia….”, jerit mamanya, penuh kesedihan.
“Mama jangan menangis. Papa dan kakak juga.”
Hati orang tua mana yang tak teriris pedih menyaksikan anaknya akan menghadap Tuhan Sang Empunya Hidup?. Mereka masih belum percaya dengan omongan anaknya yang selalu mengatakan ingin pergi. Padahal hari-hari terakhir itu tampak nyata bahwa kesehatan anaknya
semakin membaik.
“Mengapa anakku jadi seperti ini ? Ya Allah, benarkah anakku akan Kau panggil menghadap-Mu? Mamanya masih belum percaya kalau Aulia benar-benar akan menghadap Tuhan.
“Dadah, Mama, Dadah Papa, Dadah, Kakak,” kata Aulia dengan senyum manis sambil melambaikan tangannya lalu menutup matanya yang bening dan indah.
Ya, ternyata benar, Manusia berupaya, Tuhan yang menentukan. Setelah selesai pengajian, Aulia benar-benar menghadap Tuhan Sang Pencipta dengan penuh kedamaian dan ketenangan. Dia bagaikan malaikat kecil, Iman dan sikap hidupnya sungguh luar biasa. Aulia meninggal dengan penuh kedamaian tanpa mengalami sakit yang berkepanjangan pada 8 September 2002 dalam usia belum genap 6 tahun.
Catatan :
Seperti ditulis oleh Bu Ning Harmanto dengan seizin keluarganya, dalam bukunya yang berjudul MENAKLUKKAN PENYAKIT BERSAMA MAHKOTA DEWA edisi Revisi.













mengharukan.. semoga aulia tenang di sisiNya..
Ibu Eva, Yth.
Terima kasih bu atas perhatian dan doanya.
Salam Sehat Sukses Bahagia.